Picture Source: Pinterest
__________________________________________________________
Malam yang panjang. Angin ruang yang dingin mengusik pikiran anak-anak. Entah, menampilkan cuplikan terseram yang pernah mereka ingat atau sekadar berdebat dengan kilas masa. Banyak yang takut dan menangis, namun yang lain terengah-engah dalam lelapnya. Domba melompati pagar, perahu di dermaga, dan segelas susu sepertinya membantu.
Apakah kalian pernah mendengar suara hujan? Terapis bilang hitungan menit dan semua kegelisahan hilang. Tsunami adalah mimpi terburukku. Aku tidak takut hal seram namun aku tidak pernah suka hujan dengan iringan petirnya. Tidak bisa kubayangkan jika harus tenggelam dan bertemu raja duyung terjahat dalam derasnya hujan. Di luar hujan deras, aku tetap terjaga.
“Dunia ini berjalan bukan tentang atau bergantung atas apa yang kamu suka dan tidak suka,” ujar Bundaku. Aku suka bernyanyi. Suara bass hujan membantu lafal melodiku semakin merdu, seperti ketika bernyanyi di kamar mandi. Aku tidak ingin mengganggu yang lain, jadi aku bernyanyi dengan mulut tertutup. Pada malam yang kering mereka suka aku bernyanyi, namun jika hujan mereka menyuruhku diam.
Ini malam dan di luar masih hujan deras. Aku bosan diam dalam nyanyianku, jadi aku pergi berpetualang.
-Safira Nasywa Mujahidah
__________________________________________________________
p.s: Yang tadi hanyalah narasi konotatif dengan beberapa majas, seperti metafora. Aku tidak benar-benar membenci hujan. Aku adalah petrichor, tidak sedikit waktu yang kuhabiskan di bawah hujan sembari berdoa sendirian. Hujan adalah rahmat. Oh iya, berikut ini beberapa pelabuhan dari petualanganku:
2015. Ini dia bersama teman-temannya yang keren (Naura, Aisy, dan Ishmah (dari kiri)). Mereka sedang mengikuti lomba cerita boneka; Aisy dan Ishmah membuatnya dari kaos kaki. Mereka benar-benar keren.
2015. Tahun-tahun yang menjadikannya sebagai individu yang harus terus peduli dengan lingkungan sampai saat ini. Ini penghargaan pertamanya dari pemerintah kota. Sebagai duta lingkungan yang berhasil berkontribusi sekian jam aktivitas lingkungan (aku masih menyimpan emblemnya, bagaimana dengan kalian, teman?). Dulu dia benar-benar terobsesi dengan takakura, aktivitas itu yang paling Ia sukai dari pengolahan lainnya seperti biopori dan komposter. (Safira, Aisy, Lia, dan Echa (dari kiri)).
2015-2018. Selama masa itu, dia sepertinya juga terobsesi dengan hutan, bukit, dan air terjun. (Kemah Nasional 3 (2015), Kemah Wilayah (2018), Internal LEC (2018), dan Supercamp (2018).
2016. Dia jadi sangat bersemangat dalam belajar bersama tim olimpiade-nya (Shofi dan Riesya (dari kiri)). Ini penghargaan internal, mereka sempat sampai di tahap grand final olimpiade Pendidikan Agama Islam di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, tapi belum rejeki mereka hehe. Mereka tetap yang terkeren yang pernah dia kenal.
2018-2019. Formasi saman pertama yang sekolah menengah-nya punya. Terimakasih untuk Ustadzah Lathifah (sebelah kiri atas dan tengah bawah) dan Ustadzah Iis (sebelah kanan atas) yang benar-benar melatih dan mendukung mereka hingga bisa tampil di berbagai acara. Euforia menari saman bersama teman-teman masih dia rasakan sampai saat ini. Terimakasih sudah berjuang bersama!
2014-2017. Kegigihan dan dukungan orang tuanya atas Al-Qur'an membawanya pada wisuda tahfidz 10 juz (2014) di Bogor; Dia juga mendapat banyak sekali pelajaran dan teman-teman yang sangat baik (sebelah kanan). Dan dia meneruskan ziyadah-nya hingga mendapat 12 juz (2017) di Surabaya (sebelah kiri). ---- "Aku tidak tahu jika kalian percaya atau tidak, tapi saat menulis ini, Aku tidak bangga dengan jumlahnya. Namun aku benar-benar merasakan ketenangan dan kemudahan yang besar sekali setiap kali aku bersama Al-Qur'an. Itu yang membuatku tidak pernah berhenti dan lelah hingga saat ini,"

2014-2015. Dia terlahir sebagai gadis koleris yang keras kepala, jadi seorang guru mengarahkannya untuk bergabung dengan tim tapak suci sekolah. Walau tidak begitu pandai, namun dia berhasil meraih juara 1 regu seni tingkat daerah dan juara 2 sparing tingkat kota. Dia juga masih cengeng saat kalah sparing dari lawannya (2014, foto atas). Namun ternyata seni tapak suci membawa kebahagiaan yang cukup untuk dia merasa aman hingga saat ini. Dia juga tampil untuk banyak sekali panggung dan itu berkat guru dan teman-temannya yang hebat (Naura dan Shofi, foto bawah).
Komentar
Posting Komentar