Chapter 2 - Enamored with Grotesk: Embrace Your Inner’s and Burn the 'Beauty Privilege' into Ashes


Sources: Author

They say pretty face is a privilege; I'd say it's a damage

All eyes are watching, All eyes are searching

For that tiny mistake; The made up mistake

The right moment to point a finger and shout "Witch! Witch!"

Soon a rope adorns a neck "Witch! Witch!"

As the rope betrays the neck

-    ---Thalia Noya---

Hai stars! Di ingar-bingar dunia dewasa ini, Apakah kalian masih sempat mengunjungi museum? Ujar guru kewarganegaraanku, kita harus menjadi generasi yang menghargai identitas pendahulu kita. Dan mungkin itu yang tersampaikan pada dogma akan museum untuk setidaknya 12 tahun pertama dari kelahiranku. Kita datang untuk meninjau semangat formalitas pendidikan; berswa foto untuk memperbaharui citra sosial; namun pulang dengan tanpa memahami kecuali tentang matahari yang terik nan membosankan. 

“Garam hidup, baru akan kamu rasakan bila kelak terjatuh oleh kejamnya dewasa yang memaknakan.” Di sedikit sequel usiaku setelah tahun ke-12, aku mulai menemui sentimen-sentimen yang cukup memberikan luka pada permukaan diriku. Pada awalnya, aku hanya menyalahi hal sederhana mengenai, Siapa yang membuatku terjatuh? Kenapa aku terjatuh? dan Dampak apa yang bisa aku minimalisir untuk tidak terjatuh lagi? Berkutat dengan pertanyaan ke-3, aku jadi sangat sering mencari ketenangan. Mendengarkan lagu genre folk yang kupikir relevan untuk menyerapi makna; menurutku itu meminimalisir kemungkinan jatuh di masa depan. Banyak lagu folk membawaku pada kecintaan terhadap seni klasik dan kontemporer. Dengan memaknai implikasinya, Aku mengonstruksi pertanyaan baru berupa, Bagaimana aku bisa menerima dan mencintai jatuhnya itu? Bagaimana membuat diriku untuk tidak sakit bila terluka dalam keseringan jatuh itu? Aku mulai memunculkan tafsir yang baik atas hal-hal intrinsik-makna yang Tuhan berikan padaku.

Sebagai seorang romantis spasial, aku banyak jatuh cinta pada seni visual sedikit-kata. Entah bagaimana menjelaskannya, aku jadi sangat terobsesi pada penafsiran bebas yang tertelan-dalam dan terhubung dengan kilas masa lalu hidupku; Itu menyembuhkan banyak luka yang membengkak. Berbeda dengan tindakan membaca buku yang membutuhkan situasi dan konsentrasi yang lebih soliter, memaknai seni visual sedikit-kata lebih mengarah pada kegiatan berselancar pada relativitas ombak makna yang abstrak. Aku jadi terobsesi dengan museum!

Pameran Seni Tunggal Goenawan Mohammad – Aistheta dan Yang Kasatmata

Sources: Author

14 Juli 2023 --- Bukan ideku, ini Lia. Suatu hari, Zikra yang tahu obsesiku pada museum mengajak untuk mengunjungi museum bersama. Aku setuju dan berjanji memperkenalkannya pada museum terbaik di Surabaya. Namun Aku tidak banyak tahu daripada Lia (salah seorang hidden-gem hunter terbaik, yang kukenal sih). Lia mengajak kami untuk datang di pameran tunggal seorang seniman. Aku tidak mengenalnya, tapi biografi di internet cukup memberikan semangat untukku berkunjung.

Galeri ini berbeda. Lebih banyak lukisan dengan penempatan yang tidak berurutan tanpa korelasinya satu sama lain. Meski difasilitasi kurator seni, kami masih cukup kesulitan atas pemaknaan 58 karya yang diberikan secara gamblang. Bukan menyerah, justru kami malah semakin bersemangat! Setelah rangkaian bersama kurator, kami bertiga kembali dari titik start untuk meninjau ulang interpretasi seni yang diberikan kurator; tapi kali ini kami bertiga sebagai kurator. Banyak lukisan sedikit warna dan dimensi namun berstruktur charcoal, tinta, intaglio, atau litografi yang membangkitkan kepekaan mendetail dari indrawi kami. Menyadari juga bahwa setiap lukisan memiliki semesta makna; ini berkaitan pada siapa subjek yang mendefinisikan dan masa apa yang pernah Ia alami sebelumnya. Dengan memahaminya secara kritis dan mendalam, kami menemukan alur cerita kompleks yang amat berkesan!

Kegiatan hari itu membuat kami tersadar, bahwa tipografis-visual menjadikan kami tidak hirau terhadap makna. Fragmentasinya memberikan pembelajaran untuk memandang objek dengan menciptakan makna baru; bukan hanya pleasure, namun juga mengenai adsorpsi intelektual artistik yang substansial.

Natisa Jones – Grotesk

Sources: Whiteboard Journal

9 Juli 2018 --- Warna yang sembrono, dimensi banal, dan bentuk penuh distorsi cukup menggambarkan bagaimana galeri Salihara Juli itu. Bukan tentang keindahan atau kecantikan yang dapat diterima oleh semua orang, melainkan bagaimana insan dapat merayakan kebebasan yang dalam, di bawah alam sadarnya. Natisa membuat galeri ‘Grotesk’ untuk menuangkan aliran emosi bebasnya dengan tanpa bergantung pada estetika nan lembut . Bagaimana objek bunga sebagai metafora rasa takut, warna pink sebagai arti kenyamanan, dan tumpang tindih garis sebagai ekspresi gelisah; mencerminkan bahwa hanya Ia dan orang-orang yang mau memahami saja yang akan mendapat makna. Dalam sejarahnya, Prinsip Grotesk digunakan untuk penaklukan rasa takut atas kekaguman terhadap alam dan tekanan superior dari permukaan. Grotesk menggambarkan hal-hal yang terdistorsi, tidak menyenangkan, dan menjijikan. Dengan Grotesk, masyarakat dahulu menyuarakan hak-hak tertindas mereka pada dunia yang acuh terhadap makna topografi-visual tanpa estetika. Tentang Grotesk, kebebasan dan kebahagiaan bukanlah produk ideal yang terstandardisasi oleh budaya masyarakat. Ini menerangkan bagaimana kita memahami objek dengan sikap hormat dan rendah hati. Siapa sangka, sosok adiwarna tulus bersama energi aman yang membahagiakan hanya bisa kau dapat dengan keinginan memahami tanpa rasa ego.

Prinsip Grotesk ini kuadopsi sebagai perisai moral dalam menentang lookism; yakni paham diskriminatif berdasarkan penampilan yang mengakar kuat di lingkungan. Bagaimana tidak? Lookism dibudidayakan sejauh masyarakat tidak menyadari besar permasalahannya dibanding dengan seksisme dan rasisme. Paras yang rupawan diartikan sebagai kesejahteraan dan kesuburan hidup; sehingga banyak dari mereka mendapat hak istimewa oleh masyarakat. Paham ini menimbulkan kesenjangan dan tidak jarang pelanggaran hak yang merambat pada pencelakaan jiwa seseorang. Pengadaan lowongan pekerjaan dengan syarat ‘berpenampilan menarik’, diringankannya sanksi hukuman atas kriminalitas, dan perikemanusiaan yang condong merupakan sedikit bukti adanya hak istimewa yang didasarkan oleh kecantikan rupa. Hal ini didasari oleh efek halo (produk stereotip), yakni bias kognitif yang terjadi ketika kesan positif didapatkan dari proses generalisasi salah satu karakternya. Karena bias ini, manusia cenderung melihat orang cantik dan tampan lebih terampil dalam aspek kehidupan. Mereka menganggap kecantikan sebagai lambang kebaikan dan mengasosiasikannya dengan kecerdasan yang lebih tinggi, kesuksesan ekonomi, status sosial, dan kesehatan.

Banyaknya keuntungan yang diraup, seringkali menggali kesenjangan dan mengubur bahaya beauty privilege yang tersembunyi. Tidak banyak yang memahami bahwa beauty privilege bukan hanya merugikan kelompok yang kurang menawan, tetapi juga pada kelompok menawan itu sendiri. Orang yang menarik, kerap direduksi hanya sebatas penampilannya saja, tanpa nilai lain. Prestasi mereka didiskreditkan dan tidak dikaitkan dengan bakat atau kerja keras, tetapi semata-mata karena penampilan. Subjek industri yang mudah memberi hak istimewa pada bias citra pegawainya juga akan dirugikan. Dimana penampilan menarik tidak menjamin produktivitas maupun integritas yang baik dari pekerjanya; ini bisa berakibat pada merosotnya perusahaan dalam kurun waktu yang pasti. Banyak kasus pemerkosaan dan pelecehan juga menjadi bukti adanya bahaya dari hak istimewa kelompok menawan.

Hai stars! yang ingin kusampaikan adalah, bias kognitif yang dikulturkan di masyarakat kita merupakan hal yang harus dikontrol kuasanya. Prejudice bahwa cantik adalah kesejahteraan, tidak pernah bisa benar-benar dihilangkan atau dilawan. Ia terus tumbuh dan berkembang seiring perubahan mode peradaban. Hak yang digaungkan istimewa itu rupanya merupakan pisau bermata dua; membabi buta antara istimewa dan bahaya yang muncul pada kedua belah kelompok. Aku banyak belajar dari obsesiku pada Museum. Grotesk mengajarkan pada hidupku, bahwa lookism bertopeng tidak bisa diandalkan sebagai jaminan rasa aman dan kesejahteraan di dalamnya. Diperlukan kepekaan dan ketulusan hati untuk menyadari bahwa setiap rupa yang ada memiliki makna istimewa yang mendalam. Kita semua perlu mengambil pembelajaran dari rupa yang diciptakan Tuhan; bukan hanya mengandalkan stereotip dan kepuasan sementara dari permukaan. Jadi, kapan ke museum bersamaku💫?


Lampiran - Safira dan Sedikit Obsesinya pada Museum


References:

Aminah, S. 2006. Realisme Grotesk: Genre Sastra yang Didasari oleh Gagasan Bakhtin tentang Carnivalesque. https://www.academia.edu/8831131/REALISME_GROTESK_Genre_Sastra_yang_Didasari_oleh_Gagasan_Bakhtin_tentang_Carnivalesque 

Sabrina, G. 2018. Kembali Melihat Identitas Diri Lewat “Grotesk”. 
https://www.whiteboardjournal.com/ideas/ulasan-pameran-solo-natisa-jones-kembali-melihat-identitas-diri-lewat-grotesk/

Zhang, L. 2022. Pretty Privilege is Real and Dangerous. https://www.theteenmagazine.com/pretty-privilege-is-real-and-dangerous



Komentar

Postingan Populer