Chapter 1 - Research and the Eternal Warmth of Its Orizein🌅

 

Picture Source: Pinterest

__________________________________________________________

Hai, stars! Namaku Safira Nasywa. Aku merupakan siswi riset di madrasah. Orang luar bilang kita akan menemukan lebih banyak keajaiban di laboratorium daripada di bangku sekolah. Aku cinta keajaiban, salah seorang teman selalu memanggilku penyihir karena obsesiku terhadap benda magis. Intensiku bukanlah menjadikan tempat ini sebagai lampu yang dapat menyorotku sendiri di kegelapan. Aku ingin keajaiban ini memberi cahaya untuk semua orang, termasuk kalian.

Sebenarnya riset adalah tanggung jawab besar yang bahkan aku baru menyadarinya di usiaku yang 18 ini. Aktivitas laboratorium harus dilakukan secara empiris dan sangat jujur. Kita mengetahui hipotesis dan data, tapi kita tidak boleh memanipulasi hasilnya meski itu hanya 0.01 miligram. Hal yang tidak mudah, aku buta akan sebagian besar hal itu. Jadi di tempat ini aku dibentuk untuk tidak hanya mahir namun juga benar.

Pada awalnya aku hanya seseorang dengan rasa ingin tahu yang besar. Hal-hal kecil sering menimbulkan ratusan pertanyaan. Jadi daripada membuat orang tuaku harus kelelahan menjawab semua pertanyaanku, aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri; melalui riset. Ada kesenangan dan kepuasan tersendiri ketika aku berhasil menemukan jawaban atas pertanyaanku. Meski itu melalui proses yang panjang, aku tetap menyukainya!

Salah satu dari ratusan pertanyaanku pernah membawaku dalam proses studi lapangan dengan wawancara masyarakat kota. Ini kali pertamaku harus berinteraksi dengan banyak paruh baya (yang bahkan aku sendiri kesulitan berbicara dengan bu RT-ku di rumah, ketika ada tugas dari sekolah). Menurutku, kesenjangan umur adalah tantangan yang sangat sulit untuk berkomunikasi. Itu membuatku merasa terintimidasi dan gugup. Namun aku bersama temanku, jadi aku merasa tidak harus takut atau kesulitan. Dan setelah melewati semua proses wawancara, ternyata bukan hal yang buruk. Sejak saat itu, aku percaya bahwa tidak ada sesuatu yang sangat sulit sampai kita tidak bisa melewatinya. Akan selalu ada jalan meskipun itu tersembunyi seperti jalan alternatif atau sangat sempit dan berkerikil seperti jalan tikus. Yang perlu dilakukan hanya terus berusaha.

Aku terus berprinsip seperti itu hingga aku menginjak tanah dewasa. Ternyata usia dan tantangan itu setara, jika dia bertambah maka yang lain juga bertambah. Saat itu usiaku 16 tahun, dan aku masih gila dengan ratusan pertanyaan, yang berlipat ganda setiap tahun aku beranjak. Aku berusaha mencari jawaban dimana medan yang kulalui ternyata lebih sulit dari yang pernah kubayangkan. Hmm aku tahu semua pandangan terkait sulit atau tidak itu subjektif dan relevan. Namun diriku saat itu memang ada di fase menuju dewasa yang aku sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Masalah identitas dan self-discovery menjadi tekanan yang menggangguku dalam menemukan jawaban. 

Dalam fase menuju dewasa, mungkin yang semakin menyulitkan adalah ketika aku sering merasa sendiri. Secara ilmiah ini dibenarkan dengan beberapa alasan seperti dinamika sosial; bahwa semakin dewasa seseorang semakin tinggi intensitas logical-preference atas jaringannya. Tanggung jawab yang lebih besar, relokasi, dan prioritas menjadikan orang dewasa memiliki sedikit waktu untuk menghabiskannya bersama teman. Namun ada sebuah kalimat yang aku ingin orang dewasa yang membaca ini juga tahu, bahwa "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita," (QS. 9:40). 

Di olimpiade risetku (2022), takdir mengharuskan bahwa aku harus maju sendirian. Jadi banyak kesulitan yang aku merasa bahwa itu adalah akibat dari posisiku sebagai individu dan bukan tim. Namun, ternyata kalimat tadi benar. Aku yang selalu merasa bahwa semua pertanyaan yang aku miliki harus kutemui jawabannya sendiri, ternyata dihadirkan banyak bantuan hangat dari Tuhan. Sebenarnya aku tidak pernah menyerapahi kondisi sendiri itu, namun tidak bisa dipungkiri hal tersebut selalu membawaku pada banyak tangis dan doa dalam setiap sujudku. Aku yakin dan percaya bahwa sebenarnya manusia tidak dilahirkan untuk menghadapi dunia yang 'tidak tahu akan terjadi apa nanti' ini dalam posisi sendirian. Di tempat dan waktu yang tidak terduga, aku bertemu dengan kehangatan orang-orang yang membantuku. Aku sempat lupa hangat itu seperti apa, karena pada saat itu hari-hariku hanya ada hujan dan badai. Dengan segala hangat yang membantuku, aku berhasil melewati kesulitan 'fase menuju dewasa' tadi dan menemukan jawabannya. 

"Tidak ada hal sulit yang tidak bisa kita lewatkan, karena kita tidak pernah sendiri. Jadi aku terus berlayar di laut rasa ingin tahuku; Bahkan mungkin untuk masa yang sangat lama,"
__________________________________________________________

Halo. Ini Safira, 18 tahun. Sejauh ini aku hanya seseorang yang sangat biasa. Sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan dari diriku. Aku masih sama, memiliki ratusan pertanyaan yang sudah berlipat ganda lagi sejak terakhir aku menangisi 16 tahun usiaku. Aku masih menyukai riset; Selain Tuhan dan Keluargaku, ada hal yang bisa sangat kubanggakan dari diriku. Yakni orang-orang yang memberikan kehangatan abadi dalam petualanganku. Mereka di sini, semoga kalian bisa merasakan hangatnya juga ya, pasti bisa sih! 



Komentar